Sebuah guyonan politik
Karya Mbah Wagoe
Tersebutlah sebuah deesa yang memang sudah’ngoyoworo’. Banyak penduduk desa mulai berdiskusi tentang desa ini… alhasil topik diskusi yang lagi ‘hot’ saat ini adalah demokrasi. Secara pasti saya tidak tahu sejak kapan diskusi tentang demokrasi di desa itu menjadi marak. Yang saya tahu memang selama ini desa itu tidak pernah diberi kebebasan untuk melakukan demokrasi secara layak dalam banyak hal, dan kabar burung mengenai kebebasan bedemokrasi menjadi pergunjingan nasional di desa itu. Tak ketinggalan Ponirah dan keluarganya. Ponirah memang adalah anak seorang mantan kepala desa yang cukup disegani di desa itu. Sejak dulu sebenarnya keluarga Ponirah sudah sangat sarat dengan politik. Ya… politik praktislah, politik teoritislah… pokoknya segala hal yang berbau-bau politik keluarga Ponirin sudah merasa tidak asing lagi.
Ponirah memang sejak kanak-kanak aktif di kancah ranah pergunjingan umum di desa itu. Mulai dari jadi penari latar, pesinden,,malah pernah sekali waktu main gamelan ketika pak Santiko mendalang pada bulan Rejeb yang lalu. Tak aral Ponirahpun disunting oleh Jumput anaknya pak Randingun. Nah Jumput ini juga pesinden lanang yang cukup digemari pada jamannya. Tetapi didalam berbagai kegiatan tampak memang Ponirah lebih dominan dalam segala hal. Sebutlah dari mulai milih slendang, sampai dengan milih sarungnya si Jumput, semuanya Ponirah yang tentukan.kalau Ponirah mau warna sarung yang hijau, walaupun Jumput sebenarnya tidak menyukainya, selalu pada akhirnya Jumput harus berkata ‘yo wis’.
“Pakne….” Demikian Ponirah tiba-tiba berucap ketika podo kumpul-kumpul makan ‘telopendem’ di depan tungku mereka. Mereka selalu makan bareng-bareng dengan keluarga besar mereka di depan tungku yan letaknya justru di ujung paling belakang dari pekarangannya yang sangat luas itu. “ Saya kira ini kesempatan yang baik untuk cari duwit pakne…. Mbok kowe ki yo ikut maju nyalonke dadi punggowo deso” begitu seru Ponirah pada suaminya yang masih ngunyah telo pendemnya. “gluck….. gleck….” Terperangah setengah kaget Jumput mendengar saran yang lebih merupakan perintah tak langsung dari istrinya Ponirah kepadanya. “ Ach.. mbokne… aku iki sinden cengkok…. Kemampuanku bukan untuk dadi punggowo deso… aku lebih seneng nggarap tayuban….bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang aku tidak senengin?… wah jan…mbokne,mbokne…”\begitu kata Jumput sambil ‘srempangin’ sarungnya. Matanya masih tetap melotot memandangi istrinya, sambil sekali-kali pandangi ketela yang sedang dibakarnya. “ Sruuuut…..” suaranya cukup kencang ditelinga tetangga.. itulah suara tarikan Ponirah… ya Ponirah dengan sigap menarik sarung Jumput sampai tak sanggup Jumput menyeimbangkan dirinya dan “bruuuk….’ Telungkup di tanah. Masih untung ketelanya tidak jatuh, tangannya tetep’nyekethem’ memegangi ketelanyanya. “Pakne…. Ini perintah….. sampeyan ini kayak nggak tahu saja…. Gaji punggowo deso kuwi 50 ringgit sebulan……. Ini gaji yang sangat besar… nggak bisa dilakukan selain jadi punggowo deso…..Sampeyan kan tahu.. kalau aku juga bekas sinden… make-upku saja butuh pirang-pirang ringgit. Sampeyan wis ngunduri tuwo… ‘ora payu meneh’, wis..pokoknya sampeyan kudu maju….kita sama sama maju… “begitu teriak Ponirah. Sekali lagi keluarga ini tak akan nyempal kebiasaan, yaitu munculnya kata ’yo wis’ sebagai akhiran dari sebuah pembedaan pendapat.
Begitulah deso itu kini menjadi semakin keblinger karena demokrasi yang mentah. Belum lagi banyak cerita dari beberapa keluarga lain yang juga ikut ambil bagian dalam pencalonan punggowo deso.
Jumput sendiri akhirnya maju dengan panji yang sama sekali berbeda komitmen dengan panjinya Ponirah….. Opo kuwi ora edan? ( Apakah itu tidak gila?) La wong seharusnya pendadaran politik kan harus dilandasi dengan nurani dan tujuan yang bersih. Biasanya nurani keluarga akan menyatu menjadi sebuah komitmen pertama ketika mereka hidup… bagaimana mungkin dalam satu keluarga bisa maju berpolitik dengan panji yang berbeda… “Ini kan namanya guyonan politik yang menggelikan… atau bahkan memalukan… opo arep dadi politikus atau malah dadi Tikus yang sakit polib….” Demikian kata mbah Surip sesepuh desa itu yang malahan enggan mencalonkan diri menjadi wakil deso karena ia merasa keblingeran masyarakat sudah berlebihan.
Nah perlu diketahui bahwa deso ini adalah desa yang lagi hangar-bingar dengan uporia demokrasi….demokrasi rebutan jatah… padahal masih sangat mentah.
Ketika Ponirah Ikut Berpolitik
March 2, 2009Aspek Sederhana tentang Perijinan Pendirian Stasiun Radio Komunitas
February 28, 2009
Artikel kiriman Eko Budhi Purwanto
Radio komunitas adalah radio non komersial yang dipilih sebagai suatu alternative bagi kepentingan komunitas mereka masing-masing. Konsep dari pendirian radio komunitas sudah jelas membantu masyarakat, dan bermanfaat bagi kemajuan pengetahuan sekaligus penghiburan. Karena kita terbiasa memikirkan suatu hal dengan konsep pemikiran yang njlimet, maka mulailah orang berandai-andai dengan berbagai spekulasi dan kesulitan-kesulitan yang bakal dihadapi berkaitan dengan pendiriannya. Yang terjadi karena kenjlimetan pemikiran itu, bahkan banyak manusia yang nekat dan ngawur mendirikan tanpa prosedur yang memadahi.
Aspek yang paling sederhana pendirian sebuah broadcasting komunitas adalah komunitas itu sendiri.
Seperti misalnya seseorang akan mendirikan sebuah radio broadcast komunitas, yang paling pertama harus ada adalah komunitas yang dimaksudkan. Apakah itu komunitas organisasi, kelompok, atau komunitas cakupan wilayah, sehingga hal ini akan memperjelas arah dan makna dari berdirinya sebuah station broadcast komunitas.
Komunitas sebagai sebuah kelompok,organisasi masyarakat, atau organisasi berdasarkan keragaman tertentu kemudian akan menjadi basis berdirinya sebuah stasiun broadcast.
Komunitas sebagai sebuah organisasi tentu harus ada susunan organisasi yang jelas, termasuk ketua organisasi, berikut penanggung jawab dari komunitas itu sendiri.
Aspek yang kedua bila organisasi komunitas itu sudah ada, adalah visi berdirinya sebuah stasiun broadcast tersebut. Ini juga tidak harus terlalu njlimet, yang paling penting adalah kejelasan warna dari program-program yang akan disiarkan tersebut. Banyak stasiun broadcast yang berdiri tanpa ‘cantolan’ karena memang tidak memiliki visi yang jelas dari semua program penyiarannya. Stasiun seperti ini biasanya akan menjadi ‘ngalor-ngidul’ seperti daun yang ditiup angina. Mereka kemudian menjadi tak ada bedanya dengan broadcast yang banci (maksudnya non komersial namun siaran-siarannya tidak terlalu jelas.).
Perijinan sebuah stasiun broadcast komunitas, sebenarnya tidak terlalu sulit, apabila aspek yang paling sederhana yang disebut diatas sudah secara jelas anda miliki.
Mengenai bagaimana format perijinan dari stasiun broadcast komunitas akan saya posting pada artikel berikutnya.
Akhirnya Jawa Excotic Go Internasional
February 24, 2009
Mr. Eko Budhi Purwanto, Direktur Batubita Inc. bersama Mr. Tommy Radji Direktur Garuda TV,NV, dan Mas Didi Kempot.
Group Band Jawa Excotic akhirnya menandatangani kontrak kerja dengan Batubita Incorporation untuk segera kemudian release album mereka untuk diedarkan di Suriname dibawah panji promosi Garuda TV. ” Ini merupakan tahab awal kerja sama kami”tandas Mr. Tommy Radji dalam satu kesempatan ketika dimintai keterangan soal kerjasama ini. Sementara Mr. Eko Budhi Purwanto selaku Direktur batubita Incorporation melihat bahwa peluang ini bisa menjadi pijakan untuk seniman-seniman berikutnya. Mr. Tommy Radji pemilik Garuda TV, NV Suriname memang telah merintis uri-uri budaya Jawa ini sejak beberapa tahun yang lalu. Saat ini memang masih Didi Kempot yang menjadi alternatif utamanya, karena disamping di Suriname lagu-lagu Didik lebih bisa diterima dibandingkan dengan artis-artis lainnya, juga peran Garuda TV sangat lekat dalam hal promosi mereka.
Mengenal Lebih Dekat dengan Bpk. Eko Budhi Purwanto, Direktur Utama Grahita Indonesia Incorporation
February 19, 2009
Pak Eko, demikian panggilan akrab tokoh ini memang luarbiasa. Tokoh yang satu ini seringkali menjadi perbincangan dalam berbagai forum diskusi karena terobosan ilmiahnya yang dianggap “sedikit mbalelo” namun “benar-benar full of mind”.
Eko Budhi Purwanto ,Direktur Utama lembaga Grahita Indonesia ini mungkin menjadi salah satu psikolog di Indonesia yang memiliki cakupan pelayanan yang terluas. Sejak penelitian ilmiah yang dilakukannya pada tahun 1996, beliau terus aktif mengadakan pelayanan psikologis terhadap masyarakat luas dari berbagai kalangan.
Berikut ini hasil wawancara Yonas Triyanto, reporter Batubita Media pada suatu kesempatan pada bulan Januari 2009 yang lalu.
Bagaimana bapak bisa begitu concern terhadap pelayanan psikologis terhadap masyarakat bahkan pada kelas yang paling bawah sekalipun,sementara secara umum dapat dipastikan bahwa melayani masyarakat ekonomi menengah ke atas jauh lebih memberi peluang…..
Peluang pelayanan yang paling besar justru ada pada masyarakat bawah. Walau berbagai tantangan seringkali membuat diri kita kecil hati, namun bila memang ingin melayani maka masyarakat bawahlah yang lebih membutuhkan pelayanan itu… Dan berkah Tuhan itu selalu akan diberikan pada siapapun yang memang secara tulus mengabdikan dirinya.
Apa yang mendasari keterlibatan pelayanan bapak selama ini?
Saya hanya berfikir bahwa manusia terlanjur lebih senang mengaburkan antara hal yang baik dan yang buruk dalam kehidupan ini, padahal perbedaan itu sudah sangat jelas dan begitu sederhana. Manusia juga memiliki kecenderungan untuk tidak mau menerima masukan orang lainnya.
Kenyataan itu membuat saya miris, dan saya berfikir harus ada tools yang mampu menjembatani persoalan itu… Maka kemudian serta merta saya melakukan banyak kajian ilmiah terutama berkaitan dengan conditioning, sub-consciousing dan metode projektif.
Kami dengar bapak juga merintis sebuah TV Komunitas berbasis Budaya Jawa…. Bagi masyarakat luas kegiatan ini menjadi aneh karena lagi-lagi prospeknya kan menjadi tidak menentu.
Sekali lagi, saya sejak kecil selalu didik oleh orang tua saya untuk tetap bisa memisahkan antara pengabdian pelayanan dengan sebuah usaha komersial, walaupun selalu ada kemungkinan pergeseran maknanya.
Saya memang sedang merintis sebuah jalan tol bagi sirkulasi budaya Jawa yang sebenarnya lebih mendunia daripada bahasa Indonesia (menurut saya).
Bayang Reka TV telah dirintis dengan modal yang serba pas-pasan, namun memiliki Mega-Content….. yang memberi kesempatan dan peluang yang besar bagi perkembangan budaya jawa (termasuk bahasa Jawa) yang justru dianggap sebagai bahasa under-marginal oleh pemiliknya sendiri. MINIMAL content ini yang menjadi soko guru projek ini……Mengenai apakah nanti akan berprospek bisnis… saya kira itu akan berproses sejalan dengan waktu di kemudian hari…..
Pertanyaan kami yang terakhir pak… Oleh beberapa kalangan praktisi psikologi bapak sering dianggap sebagai “Psikolog Kontemporer yang Mbeling” bagaimana bapak mensikapi hal tersebut?
Saya kira semua orang berhak mengeluarkan pendapat. Bagi saya apapun julukan yang diberikan kepada saya memiliki makna perhatian yang begitu besar terhadap aktivitas yang saya lakukan selama ini. Sangat jarang manusia menerima sebuah proses dalam mensikapi suatu penemuan baru, sehingga yang terlihat adalah ketidak sempurnaannya. Kalau boleh saya meminjam istilah Sdr. Garin Nugroho… suatu hal yang baru memang akan berproses dari ketidak sempurnaan. Sepeda ketika pertama kali ditemukan juga tidak sesempurna yang sekarang.. itu contohnya.
Yang paling penting bagi saya adalah bahwa kembelingan saya selalu bermuara pada kebaikan bagi orang banyak.. karena disitulah kehebatan ilmiah bisa benar-benar diperlihatkan.
Karena kebukan beliau maka wawancara hanya bisa kami rilis sampai disini.
Demikian wawncara kami dengan tokoh idola kita kali ini, Bapak Eko Budhi Purwanto, Direktur Utama Grahita Indonesia Inc., yang sekaligus juga Direktur Utama Batubita Inc. dan pemilik TV Komunitas Budaya Jawa Bayang Reka TV.
“Kopi Pahit”-nya Jawa Excotic yang Memang Eksotik
February 18, 2009Bagi pendengar setia Radio Batubita 2,5 Ghz pastilah tidak asing lagi dengan lagu jawa berjudul Kopi Pahit dari band Jawa bernama Jawa Excotic ini.
Belum dirilis namun sudah begitu banyak pendengar yang kayaknya ‘kepencut’ dengan alunan musik maupun lagunya. Bila ditilik dari jenisnya, Kopi Pahit adalah musik yang berjenis Jazz bosas, dan uniknya lagunya dituangkan dalam syair yang berbahasa jawa. Unik memang, sehingga terkesan memberi warna baru bagi nuansa musik jawa pada umumnya.
Simak saja lagunya pada setiap malam di Radio Batubita.“Lagu ini sebenarnya belum dirilis” kata Bung Sammy selaku Manager produksi Batubita Inc. Menurut Mr. Sammy album yang bertajuk Kopi Pahit ini akan khusus diedarkan di Suriname Bulan April 2009 mendatang.
Mudah-mudahan kita kebagian ya bung Sammy.
Membangun Konsep Bisnis dengan Radio Internet
February 17, 2009
Mr. Eko Budhi Purwanto, bersama Mr. Tommy Radji dan Mrs. Florine,diapit masing masing Mr. Sulistyo dan Mr. August Lasono
Radio Internet saya kira merupakan salah satu wacana baru sebagai sebuah peluang untuk menjaring bisnis anda.
Para bloger mulai berusaha untuk mencari hal yang baru ketika mereka akan melanglang dunia maya, karena mereka mulai bosan dengan hanya tulisan….. mereka ternyata perlu taste yang lebih dalam justru ketika mereka kehilangan arah.
Radio Internet, adalah satu media yang dapat menyuguhkan nuansa baru bagi website anda tentunya.
Radio batubita 2.5Ghz misalnya, saat ini telah banyak mengenyam manfaat dari radio internetnya. Radionya berhasil menjaring ratusan pendengar, dan tentu saja praktis pembaca websitenya.
Satu terobosan yang berani bagi Radio Batubita dalam mengemas teknologi menjadi benar-banar bermanfaat bagi kehidupan bisnisnya.
Barangkalai satu hal yang patut diacungi jempol adalah karena keberaniannya untuk tidak saja dicemooh pada awalnya, dijadikan bahan sindiran, namun eksistensi Radio batubita patut dibanggakan.
Radio batubita bahkan kini sanggup menggandeng Garuda TV Suriname untuk saling bekerja-sama. “Nepungke balung pisah” demikian komentar Mr. Tommy Radji , President Director Garuda TV.NV ketika bertemu dengan Eko Budhi Purwanto, Direktur Utama Batubita Incorporation.
Bravo Batubita.
Posted by batubita
Posted by batubita
Posted by batubita